MSI Bagian Ke 3


Sakit Gigi

Saat berada di Luar Negeri, hal yang paling tidak mengenakkan ialah sakit. Ketika tinggal selama enam bulan di Warsawa, saya mengalami sakit gigi yang cukup menyiksa. Awal ceritanya bermula saat perjalanan pulang dari prague menuju warsawa, ketika itu gigi ini sungguh tak tertahankan sakitnya, kampretnya, obat sakit gigi tidak saya bawa.

Iseng-iseng google saya buka, baca baca, katanya obat flu bisa jadi pereda. Satu-satunya obat flu yang saya bawa ialah “Neozep Forte”. Setelah minum itu, saya langsung merasa ngantuk dan gak terasa sakit lagi (ya iyalah kan tiduurr -___-).

Sakit gigi ini semakin menjadi jadi ketika memasuki bulan puasa, rahang bengkak mulut tak bisa mangap. Makan apapun jadi sulit, untung perut tidak melilit, yang bisa kulakukan saat itu ialah minum susu dan makan roti sedikit.

Karena sudah tak tahan, akhirnya saya pergi ke dokter sendirian. Disana saya ceritakan semua keluhan. Dokter tidak bisa memutuskan, jadi saya dibuatkan rujukan. Pergilah saya ke klinik gigi yang lokasinya agak jauhan. Cerita disana, ternyata sakit itu berasal dari gigi bungsu yang posisi tumbuhnya tidak diinginkan. “Cabut gigi segera”, dokter menyarankan.

Gimana mau cabut gigi dok.. mangap aja susah.. Akhirnya dokter memberikan obat, supaya bengkaknya segera sembuh. Setelah sembuh bengkaknya dan hilang sakitnya, saya malah gak berani cabut gigi.. Kepikiran kendala bahasa.. saya gak bisa bahasa polandia.. salah salah gigi bisa ilang semua hehe…

Tesis Oh Tesis

Setelah pulang ke Indonesia, saya langsung disibukkan dengan tesis. Serasa kembali ke dunia nyata, mulai masuk laboratorium dan berkutat dengan jurnal jurnal. Tesis di IPB tahapannya lumayan banyak dan harus telaten ngurus segala sesuatunya sendiri.

Tahap pertama dimulai dengan menentukan dosen pembimbing, setiap mahasiswa akan dibimbing minimal oleh dua dosen. Dosen pertama sebagai Ketua komisi pembimbing serta dosen kedua dan seterusnya sebagai anggota, Pemilihan dosen pembimbing pertama sudah dilakukan pada tahun pertama perkuliahan. Mahasiswa memilh 2 nama sebagai calon ketua komisi pembimbing, apabila kuota dosen di nama pilihan pertama sudah penuh maka akan dilimpahkan ke nama pilihan kedua. Setiap mahasiswa akan diberi kertas berisikan nama calon dosen pembimbing dan topik-topik apa saja yang menjadi bidang keahliannya.

Di Tahap kedua, kita akan bertemu dengan ketua komisi pembimbing dan berdiskusi mengenai topik apa yang akan diteliti. Apabila topik sudah bisa ditentukan maka akan berlanjut ke penyusunan draft proposal dan pemilihan anggota komisi pembimbing.

Tahap ketiga ialah sidang komisi 1. Setelah draft proposal siap, maka dilakukan sidang komisi yang bertujuan untuk menguji apakah proposal sudah bisa diajukan ke kolokium (seminar proposal)i atau masih perlu beberapa perbaikan. Di tahap ini kita akan mendapat banyak sekali masukan dari dosen pembimbing. Sidang komisi dilakukan secara tertutup dengan dosen pembimbing kita.

Tahap keempat ialah kolokium (seminar proposal). Kolokium berformat sidang terbuka, yang dihadiri oleh dosen pembimbing (tanpa harus semua hadir), rekan-rekan mahasiswa, dan seorang moderator. Kolokium biasanya berlangsung kurang lebih satu jam dengan format pemrasaran memaparkan presentasi kemudian dilakukan tanya jawab dan ditutup dengan komentar dan saran dari dosen pembimbing. TIPS : pelajari karakter moderator dan bidang risetnya. Apabila bidang risetnya sesuai dengan penelitian anda, maka pertanyaan dari moderator akan jauh lebih dalam ketimbang yang tidak sesuai dengan penelitian anda. FYI saya menyelesaikan tahap 2 hingga tahap 4 dalam satu semester .. hmm.. seharusnya bisa lebih cepat kalau anda lebih rajin hehehe.

Tahap kelima ialah ngelabbbbb …. karena bidang ilmu saya mengharuskan untuk berkutat di laboratorium. Tahap ini sangat krusial.. dan bisa dibilang bergantung pada diri kita sendiri dan juga nasib hehehe. Jadi sangat disarankan anda untuk tidak malas2an saat berada di tahap ini serta ngencengin ibadah dan doa agar punya nasib yang baik hehehe. Tahap kelima ini saya kerjakan sepulang dari Polandia. Awalnya, saya berniat ngelab hanya di laboratorium milik kampus IPB, tapi ternyata kau tak berubah ada apa denganmu  hidup tak semudah itu ferguso. Saya kena semprot dosen penanggungjawab laboratorium karena menggunakan autoklaf untuk produk makanan, padahal autoklaf itu peruntukannya untuk sampel mikrobiologi. Semprotan itu saya terima, karena saya salah dan saya bersyukur karena hampir saja saya melukai diri sendiri karena saya suka nyemilin sampel saya diam-diam.. Bisa-bisa saya bisa kena typus atau sakit yang lebih parah karena sampelnya terkontaminasi mikroba. Mencari-cari laboratorium yang ada autoklaf khusus pangan ternyata tidak mudah. Alhamdulillah saya punya teman yang bekerja di LAPTIAB-BPPT serpong, disana ada autoklaf yang khusus dipakai untuk sampel  makanan.. baru dibeli lagi.. Jadilah saya ngelab disana selama kurang lebih hampir setahunan hehehe..

Tahap keenam ialah menyusun draft makalah seminar. Tahap ini bisa dicicil selama ngelab, karena untuk seminar tidak membutuhkan semua data hingga selesai penelitian. Kita bisa memaparkan sebagian data hasil penelitian kita dalam makalah seminar.

Tahap ketujuh ialah seminar hasil. Seminar dilakukan secara terbuka dengan dihadiri oleh dosen pembimbing (bisa salah satu saja), rekan-rekan mahasiswa dan seorang moderator. Untuk daftar seminar ini syaratnya ialah makalah seminar anda harus sudah di ACC oleh ketua komisi pembimbing. Bagi mahasiswa Ilmu Pangan syaratnya ditambah, yaitu harus sudah men-submit manuskrip artikel ilmiah ke jurnal. Seminar hasil dilakukan kurang lebih satu jam dengan format yang kurang lebih mirip seperti kolokium namun dengan audiens yang biasanya lebih luas dan dari bermacam-macam program studi yang ada di IPB.

Tahap kedelapan ialah menyusun draft artikel ilmiah (manuskrip publikasi). Publikasi bisa dilakukan pada jurnal nasional maupun internasional. Status publikasi saat kita sebelum ujian tesis akan menentukan grade atau nilai yang kita peroleh di transkrip. Usahakan untuk publikasi minimal di jurnal terakreditasi DIKTI dengan status telah lolos penelaahan editor agar mendapatkan nilai A. Publikasi ilmiah memiliki angka kredit sebesar 2 SKS di dalam transkrip.

Tahap kesembilan yaitu menyusun draft tesis. Draft tesis yang dibuat harus mengacu pada format penulisan IPB. Format ini dapat ditemukan pada buku panduan penulisan tesis. Semakin sesuai dengan format maka akan semakin memudahkan saat revisi nanti.

Tahap kesepuluh ialah sidang komisi 2. Sebenarnya, sidang komisi bisa lebih dari dua kali. Namun, kalau udah cukup dua yaa ngapain banyak banyak ya.. hehe..  Fungsi dari sidang komisi ini ialah menguji terlebih dahulu tulisan dalam draft tesis kita. Semakin banyak masukan disini akan semakin baik untuk menghadapi ujian sidang tesis. Sidang komisi 2 bisa dilakukan sebelum seminar hasil maupun sebelum ujian sidang. Saya dulu melakukan sidang komisi 2 sebelum seminar hasil, sehingga setelah seminar hasil saya tinggal menyelesaikan data untuk sebagian pembahasan dan persiapan menuju ujian sidang.

Tahap kesebelas adalah tahap yang paling dinanti-nanti yaitu…. ujian sidang tesis. Sebelum ujian, kita perlu mendiskusikan dengan dosen pembimbing, siapa yang akan menjadi dosen penguji kita. Saat menjelang ujian, persiapkan fisik dan mental yang prima. Belajar secukupnya saja (karena pertanyaannya akan out of the box dan lebih menguji ke mental kita menghadapi tekanan hehehe). Buatlah slide presentasi yang jelas sehingga bisa dibaca dengan baik. Saat ujian sidang, dosen yang hadir ialah semua dosen pembimbing, 1 orang dosen penguji, dan perwakilan program studi sebagai moderator. Pengumuman kelulusan sidang dan nilainya dilakukan langsung seusai sidang.

Tahap keduabelas ialah revisi draft tesis. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dosen pembimbing, dosen penguji dan moderator. Draft revisi yang sudah disetujui oleh dosen pembimbing masih belum boleh dijilid terlebih dahulu. Draft revisi harus melalui cek format. Cek format dilakukan di bagian administrasi sekretariat pascasarjana. Pengecekan dilakukan sangat teliti hingga meminimalkan kesalahan format pada draft kita. Setelah bolak-balik pengecekan format dan dinyatakan fix.. kita bisa menjilid tesis kita.

Tahap ketigabelas adalah Mengurus penerbitan SKL, Ijazah, dan Transkrip Nilai. SKL atau Surat Keterangan Lulus bisa kita urus setelah menyelesaikan semua tanggungan diatas. Termasuk menyetorkan Tesis kita yang sudah dijilid ke perpustakaan pusat, perpustakaan fakultas, sekretariat program studi, dan dosen pembimbing. Ijazah dan Transkrip akan diserahkan setelah wisuda, tetapi saya dulu bisa mengajukan permohonan percepatan karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS (Meskipun akhirnya gak lolos SKD hahahaha)

Tahap keempatbelas ialah Wisuda… Akhirnya kita bisa bernafas lega… menyelesaikan studi dan mendapat gelar baru… Selamatttt….

EM ES I (bagian 1)


Tanggal 17 Oktober 2018, akhirnya saya resmi menyandang gelar M.Si. Tiga tahun kuliah, tentu bukan waktu yang ideal untuk menyelesaikan sekolah Magister. Tetapi setelah direnungkan kembali, tiga tahun kuliah di IPB ternyata sangat worth it dan reasonable.

Dibalik kesuksesan pasti ada kegagalan yang menyertainya. Setidaknya itulah yang saya dapat setelah lulus S2. Dan cerita kegagalannya… sudah dimulai sejak awal mendaftar  -____-

Pertengahan 2015 iseng-iseng buka website dikti.. saya baca pengumuman penawaran beasiswa PMDSU, dengan salah satu kampus yang ditawarkan ialah IPB. For your Information.. PMDSU adalah program beasiswa shortcut sekolah S2 langsung disambung S3.. Saya tertarik dan kemudian mencoba memilih promotor dan mengajukan proposal. Saya pilih promotor seorang profesor perempuan yang wajahnya kelihatan kalem.. (yang ternyata nggak kalem, foto memang bisa menipu).

Setelah menunggu begitu lama… saya terkejut terheran-heran karena hasil seleksi penerimaan mahasiswa Pascasarjana saat itu sudah diumumkan dan waktu daftar ulang sudah ditetapkan sementara PMDSU yang saya apply bahkan belum kelihatan ada tanda-tanda seleksi lanjutan.

Hingga saat waktu daftar ulang tiba, PMDSU belum ada pengumuman. Karena saya penasaran.. akhirnya saya nekat ke Bogor dengan status belum tahu diterima sebagai mahasiswa atau tidak. Disana saya numpang dikosan teman kuliah semasa S-1.

Beberapa hari disana, teman-teman sudah memulai perkuliahannya. Lalu saya yang belum berstatus mahasiswa… ikutan masuk kelas (benar-benar terlalu rajin).

PENGUMUMAN YANG DINANTIKAN

Akhirnya hari pengumuman itu tiba.. Saya dinyatakan lolos seleksi IPB dan bisa melakukan daftar ulang susulan, namun belum dinyatakan lolos seleksi dari promotor. Sebuah kondisi yang dilematis.. yang pada akhirnya dengan kenekatan luar biasa.. saya malah bayar spp dan ikutan daftar ulang…seakan-akan sudah mendapat firasat bahwa bakal tidak lolos seleksi promotor.. (meskipun sebenarnya di dalam hati masih berharap).

Setelah daftar ulang dan beberapa kali ikut kelas, barulah saya mendapat informasi nama-nama yang lolos PMDSU. Dan seperti firasat saya.. nama saya tidak ada. He..he…he. Menyedihkan memang dan sama sekali tidak membanggakan.. Tidak lolos PMDSU dan Kuliah S-2 pakai biaya sendiri pula.

 

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

HARI-HARI PERTAMA KULIAH

Kuliah S-2 saya berpikir akan berbeda dengan kuliah S-1, banyak ngobrolin riset misalnya, atau..sudah tidak ada lagi UTS, UAS.. Namun kenyataannya, suasana perkuliahan S-2 tidak jauh berbeda dengan S-1. Ujian dan tugasnya aja yang lebih banyak serta bobotnya yang lebih sulit. Bahkan.. tugasnya sudah datang di hari pertama kuliah. Dan tugas pertamanya ialah.. membuat tulisan dengan Tema “Fenomena Kimia Pangan dalam Kehidupan Sehari-hari”. Saya membahas perbedaan minyak jelantah dan minyak goreng baru. Selain itu saya juga membahas, kenapa telor ceplok itu enak.. hehehe.. Enggak ding, saya membahas perubahan kimia saat menggoreng telur.

Di Semester 1, saya mengambil 6 mata kuliah yang terdiri dari 4 mata kuliah wajib dan 2 mata kuliah pilihan. Saya sedikit diuntungkan karena TOEFL saya sudah bagus, jadi tidak perlu mengambil mata kuliah bahasa inggris hehehe. Dengan total sks sebanyak 14, di semester 1 kuliah S-2 ini saya merasa lebih capek dibandingkan saat kuliah S-1 yang 24 sks.. Hmm kenapa yaa?? Apa faktor usia? Hehe.. Enggak sih, emang 14 sks IPn IPB itu agak kurang ajar… Tugasnya udah kerasa kayak 30 sks.

Salah satu mata kuliah yang menjadi momok saat semester 1 ialah “Biokimia Molekular Pangan”.. Meskipun topik penelitian tesisnya nanti gak ada biokim-biokimnya, semua mahasiswa wajib mengambil mata kuliah ini. Isi mata kuliah ini hampir sebagian besar hafalan… mulai dari menghafal asam amino hingga jalur metabolisme + enzim-enzimnya. Bagi orang yang gak suka menghafal kayak saya, mata kuliah ini sungguh sangat menyiksa. Soal nilai ujian, sudah pasti rata-rata memperoleh nilai buruk. Untuk itu, dosen pengampu mata kuliah ini memberikan tugas tambahan agar nilai akhirnya tidak menyedihkan. Tugas ini dikerjakan secara berkelompok, satu kelompok terdiri dari tiga orang. Jumlah soal di dalam tugas ini ada 4 buah. Nah, saya kebagian mengerjakan soal no.4. Soalnya ialah saya harus mencari jurnal tentang elektroforesis “dua dimensi”. Dengan sembrononya saya cari aja jurnal di internet tentang elektroforesis tanpa memperdulikan dua dimensi atau satu dimensi, karena saya pikir semua elektroforesis hasilnya dua dimensilah, selama bentuknya pita garis bukan titik. Dan kesesatan pikir itulah yang saya sesali waktu keluar nilainya… Jengg.. Jenggg… yang lain dapat nilai bagus, kelompok saya nilainya jelek banget. Yang harusnya nilai dipakai buat perbaikan malah ngancurin.

Belakangan saya tahu bahwa dua dimensi disitu maksudnya dua langkah elektroforesis. Dari pengalaman ini saya belajar untuk tidak sotoy.

NYETIRIN BULE

Di akhir semester 2 perkuliahan, saya yang lagi gabut tiba tiba diajakin sama seseorang buat nge LO in bule. Buat yang gak tahu LO itu apa, LO itu semacam guide yang nemenin kemanapun perginya pengisi acara saat seminar atau konferensi. Sebenernya waktu itu saya agak males sih, duuh bule.. bakal ngobrol pake bahasa inggris nih. Ada resiko si bule gak paham tentang apa yang saya omongin. Karena kita berbeda dalam hal pronounciation. Kalau dia pakai gaya American English, saya pakai Jonglish (Jowo English). Tapi, berkat rayuan maut dan iming-iming tambahan duit yang lumayan.. ya udah deh.. saya mau.

Keesokan harinya saya ikutan rapat perdana kepanitiaan ini. Ternyata saya tugas nge-LO in bule itu sendirian.. Disuruh bawa mobil, jemput di bandara, ngantering ke hotel, ke lokasi acara.. selama 5 hari. Apaaa??? Gilaaa… saya gak hafal Jakarta dan sekitarnya.. nama-nama ikan aja saya gak hafal. Oleh karena itulah.. saya harus nyari temen agar perjalanan ini menjadi lancar, aman terkendali, dan selamat sampai tujuan.

Tugas hari pertama ialah: Jemput bule cewek, sekap dan bawa ke hotel, hubungi anggota keluarganyaa dan minta tebusan … hehehe… Enggak lah bohong…

Hari pertama, saya ditemani oleh dua orang sahabat saya yang sama-sama orang Jawa Timur. Tugasnya cukup sederhana, yaitu nganterin Bule cewek dari bandara ke Hotel Indonesia. Tugas yang sederhana ini menjadi tidak sederhana karena kami bertiga gak ada yang hafal exit toll mana yang harus diambil buat ke bandara dan ke Hotel Indonesia (selain buta arah itu kami juga norak, karena gak pernah masuk Hotel Indonesia).

Lalu kami pun mengambil solusi cepat….. Ahaaa…. untung ada HP Pintar……. pakailah google maps sehingga kami bisa lancar ke bandara dan ke Hotel Indonesia Kempinski tanpa tersesat. Tapi… HP Pintar ternyata tidak bisa membantu mengatasi kenorakan kami untuk menemukan loby Hotel Indonesia di tengah malam. Yang terjadi kami malah muter-muter gak jelas –“, sampai si bule terlihat kebingungan dengan anehnya kami. Akhirnya setelah bosen muter muter, kami menemukan portal ke dimensi lain parkiran hotel di basement, kami masuk dengan harapan bisa menemukan pintu lobi hotel di basement yang ternyata tidak ada.. Kami keluar lagi, dan voila… ketemulah pintu lobi nya. Turun lah si bule, lalu kami ditegur satpam karena masuk lobi dengan melawan arah –“. Ternyata arah masuk pintu lobi berada tepat disebelah portal parkiran tadi. Emang, panik bisa bikin otak jadi mengkerut.

Hari-hari berikutnya menjadi lebih menyenangkan, saya bisa ngerasain tidur di hotel Sheraton Bandara. Saya bisa ikutan seminar gratis, yang kalau bayar harganya bisa sampai 3 juta. Namun, saya tetep norak saat harus bayar sarapan di hotel 300 ribu rupiah –“. Sarapan macam apa, yang bisa ngabisin jatah uang makan saya selama seminggu (rws).

 

 

 

Karbohidrat dan Lemak.. Mana yang lebih berbahaya??


Banyak orang berpendapat bahwa Karbohidrat dan Lemak merupakan sumber penyakit.. Benarkah demikian?? Mana yang lebih menyebabkan penyakit?? Karbohidrat atau Lemak??

Berbicara tentang keduanya saya jadi teringat dengan mata kuliah biokimia pangan yang saya ambil waktu awal semester 1 di Program Studi Ilmu Pangan. Salah satu materi kuliahnya ialah tentang metabolisme karbohidrat dan lemak di dalam sel. Makanan yang kita konsumsi pasti mengandung kedua zat ini.. Namun kadarnya dalam setiap bahan pangan berbeda-beda. Nasi misalnya, lebih dominan karbohidrat dalam bentuk pati.

Tubuh kita pada dasarnya terdiri dari banyak sekali sel. Sel-sel ini membentuk jaringan. Kumpulan jaringan membentuk organ seperti jantung, otak dll.  Sel-sel ini membutuhkan energi untuk dapat selalu menjalankan fungsi aktifnya. Energi ini diperoleh dari serangkaian proses metabolisme makanan yang kita konsumsi (termasuk karbohidrat dan lemak). Selain energi, juga diproduksi glikogen, protein, lemak, kolesterol sesuai mekanismenya masing-masing yang sangat rumit (setengah mati waktu ujian ngapalinnya T.T). Jangan buruk sangka dulu, lemak dan kolesterol ini juga penting bagi  sistem pertahanan diri sel-sel tersebut.

Menurut saya, disinilah kuncinya… “Manajemen Energi”. Semakin efektif energi dimanage maka akan semakin sedikit cadangan makanan yang dibuat oleh tubuh. Cadangan makanan ini bisa dalam bentuk apa saja? Yang paling kelihatan yaa lipatan lemak yang ada di tubuh.. Hehe…

Jadi.. sebenarnya apapun yang kita makan.. entah… karbohidrat atau lemak… pada dasarnya akan dirombak lagi oleh tubuh untuk menjadi energi. Apabila sudah cukup energi yang terbentuk maka akan disimpan dalam bentuk lemak, glikogen, glukosa dll. Sedikit makan atau berpuasa sangat bagus bagi tubuh, karena sel dapat memanfaatkan cadangan makanan ini untuk menjadi energi.

Oleh karena itu, sebenarnya yang perlu dikhawatirkan bukan karbohidrat atau lemak melainkan hawa nafsu kita yang selalu ingin makan… makan dan ..makan .

Hawa nafsu kita yang ingin selalu mager (males gerak) mager dan mager ….hehe..

Bagaimana menurut kalian? Fell free to comment, like, and discuss.. hehe

REDUCING PALM OIL CONSUMPTION MEANS SAVING VITAL RESOURCES


http://image.slidesharecdn.com/tm312-111021015041-phpapp02/95/sumber-daya-alam-1-728.jpg?cb=1319182342
http://image.slidesharecdn.com/tm312-111021015041-phpapp02/95/sumber-daya-alam-1-728.jpg?cb=1319182342

Environment is essential for human life. Some parts of environment, such as water, air and sun light have become vital resources. They are called as vital resources because their present should be in sufficient quantity, clean, and unpolluted. Nowadays, we are tended to be difficult to find clean air and water. Presence of pollution is in everywhere. The advancement of technology in human life becomes one of the pollution contributors. In other hand, human also want to have easy life, wealth and prosperity. When people use technology in bad manner to grow their money, environment is in an alert status. In my opinion, one of the examples in bad manner technology is palm oil plantation. All of us know that palm oil has become an essential ingredient in many products. Soap, margarine, bread, frying products is some example products of palm oil. Our dependency on palm oil derivative product has made palm oil producers unthinking exploit to create oil as much as possible. Unfortunately, they convert conservative forest become palm plantation. Conservative forest is very essential for human life. It can be air and water filter. The other bad side in grand opening of new plantation is smog. Some producers choose to burn the forest as an easy way to remove grove. They choose this way because it is the simplest and cheapest method. My goal in this paper is to propose some method that can be used to reduce Palm Oil consumption. Why we have to do it. Because it will give several significant impacts when 250 million people of Indonesia do it together. First, it will reduce the volume of frying oil demand. Second, the palm oil company will think twice before open new plantation. Third, it will give good healthy benefit for everyone.

Indonesian Frying (Palm) Oil Growth

The frying food daily intake of Indonesian people is big enough. Based on Balitbangkes data (2013) on the report of risk food consumption assessment, almost 40,7% Indonesian people consumed fat, cholesterol and frying food (third rank after nice and seasoned food). Meanwhile, Balitkebas Ministry of Health Republic Indonesia released The Total Diet Study Report (2014). This report showed that Indonesian consumption of palm oil was about 37,4 gram/ day/ person. Even, this consumption was bigger than fruits (33,5 gram/ day/ person).

Along with outgrowth of frying food daily intake, growth of frying oil demand as edible oil in Indonesia from 2002 to 2013 was well rising every year. Based on, Ministry of Agriculture Indonesia data (2014), the average of frying oil demand was 6,36%. This growth was along with growth of palm oil plantation area. Every year, Palm oil plantation area was increasing until 6,9%.

Reduce Palm Oil Consumption

Reducing palm oil consumption by reduce frying food intake is one of the solution. Indonesian people food habits often use frying food such as fried chicken, fried tofu, chips, or kerupuk as complementary food and snack. To reduce the consumption, try to do this diet: “No frying food” whether in breakfast, lunch, dinner or snack. In rough estimation, it will reduce about 25% the oil consumption per person. So, From 37,4 gram/ day/ person consumption of frying oil, we will get 28,05 gram/ day/ person as new oil consumption per person. Imagine that there are 30% of Indonesian people do this diet, we will get 28% reduce of overall Indonesian people in frying oil consumption (with estimation of 255.461,70 thousand people in Indonesia).

Frying Without Palm Oil

http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/16989/big/gorengan-130621b.jpg
http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/16989/big/gorengan-130621b.jpg

Another solution is finding alternatives. Frying without oil seems like impossible but it happens. In Indonesia, some foods like “peanut” or “kerupuk” are possible fried without oil. They are usually fried with “clean sand” as frying medium. The appearance is not bad, it just have another good flavor. Another way is using alternative frying oil like olive, peanut, corn or coconut oil. The most potential is coconut oil. Indonesia has 3.7450.000 hectare of Coconut plantation . it will be good potency. But, we have to concern with coconut oil weakness. Coconut oil has bad appearance when it used for cooking. The smoke point is too low, this oil is easy to form oxidat. Nowadays, there are some simple method to convert coconut oil become refined coconut oil. Refined coconut oil is more feasible for frying process than native coconut oil. So, if Indonesia can make it as new industry. It may reduce the number of palm oil plantation.

At the conclusion, there should be no more deforestation again. All of our effort to stop company that do deforestation is back to our self again. We are too much consuming frying food. Now, we are challenged to reduce our frying food consumption. We are also challenged to use our other nature potency. Can we do it??

 

References

 Outlook Komoditi Kelapa Sawit 2014. Indarti, Diah SE et.al. 2014. Web. 21 November 2015

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS 2013). Balitbangkes Kementerian Kesehatan RI. 2013. Web. 15 November 2015.

Studi Diet Total. Balitkebas Ministry of Health Republic Indonesia. 2014. Web .17 November 2015.

Makanan Pedas bisa Bikin Mencret :o , Kenapa?


Makan Pedas emang enak banget …

http://resepkoki.co/wp-content/uploads/2013/07/sambaltomatterasi1.jpg
http://resepkoki.co/wp-content/uploads/2013/07/sambaltomatterasi1.jpg

Nikmatnya…makan lalapan sambal terasi atau sambel bawang atau sambel ijo.. Hmm yummy… Hehehe….

Tapi… karena terlalu sering makan pedas, dinding usus, lambung jadi semakin tipis, karena teriritasi oleh yang namanya Kapsaisin (Kapsai… cyiiin) –”

Kapsaisin ini terdapat dalam cabai. Suatu zat unik yang bisa bikin kita kepedesan, kesenengan makan sambel, terpacu adrenalinnya buat makan teruuss…hahahaha

Usut punya usut sebenarnya ketika kita kepedesan lidah kita sedang teriritasi (Jadi lidah kita sedang terlukaaa..sakiiiittt) Bayangin ajaa… apa yang terjadi pada lambung dan usus kita? Apakah mereka merasakan luka yang sama seperti lidah kita??  T.T …. Yang pasti penulis belum pernah denger ada usus yang mengalami kepedesan usai mencerna cabai.. –”

Iritasi pada dinding usus tadi bro.. utamanya di usus besar membuat kemampuan menyerap air si usus besar ini berkurang… akibatnyaa…. jadilah… mencreett.

hot1

Okee… okee.. Jadi …  Jangan kebanyakan makan pedes..

Bisa Jadi perut sekarang kuat.. tapi gak tau… besok, lusa.. atau besok setelah lusa…atau besok besok setelah lusanya lagi ….

Kalau Diare — Minumlah Teh Pahit, Kenapa??


Bismillahirrohmanirrohim….

Waktu ku kecil sampai segede ini, ketika kena diare pasti sama Ibu selalu disarankan untuk minum teh pahit (semakin pahit tehnya semakin bagus). Kenapa ya?

Penasaran sama tips tradisi ini, saya coba cari-cari knowledge tentang kandungan dalam teh yg bisa bikin sembuh diare.

Dan Finally I found it…..

Jadi…. ternyata tanin yang selama ini dikenal memberikan rasa pahit pada teh, serta zat antinutrisi (penghambat penyerapan) mineral mempunyai efek antibakteri :o.

Tannin dalam teh dapat bersifat sebagai antibakteri . Selain itu, tannin sebagai chelator logam dapat memiliki sifat astringent yaitu mengerutkan selaput lendir usus sehingga mengurangi pengeluaran cairan akibat diare. Menurut Lutfi (1999) dalam Setijanto et.al (1999) , teh hitam memiliki daya antibakteri Eschericia colitoxigenik dengan minimal inhibitation Concentration (MIC) sebesar 4 % apa ini maksudnya .

Hehehe….

Kalau diare minum Teh Pahit ….

Sudahh Bettuulll…..

http://tehhitam.blogdetik.com/files/2013/12/8d1a173ef1e220292403146889c2c565_fresh-green-tea-leaves-sunlight.jpg
http://tehhitam.blogdetik.com/files/2013/12/8d1a173ef1e220292403146889c2c565_fresh-green-tea-leaves-sunlight.jpg

Referensi:

Hilyatuzzahroh. 2006. Korelasi Kadar Tannin pada Produk Teh Komersial dengan aktivitasnya sebagai Senyawa Antibakteri EPEC K-1. Bogor:IPB

Setijanto D et.al. 1999. Daya Hambat Fluorida dalam minuman Teh Hitam terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans JPUA 6: 14-20

Tahu Bulat — Food Truck


Jika Di Luar Negeri ada konsep Jualan makanan yang menggunakan van terbuka (disebut Food Truck) maka di Indonesia juga gak mau kalah. Makanan khas indonesia yang satu ini digoreng, dijual keliling memakai mobil pick up.

Tahu Bulat namanya… Tahu nya gurih, dalemnya kopong, 500 an, digoreng dadakan.. haangeett..

Jadi agak.. nyesek sebenernya.. mengingat kota kelahiran sy terkenal dengan tahu… tapi justru di bogor ini yg ngembangin produk unik yg dijual dengan cara yg unik juga.

https://cookpad.com/id/resep/186878-tahu-bulat-ala-abang-abang
https://cookpad.com/id/resep/186878-tahu-bulat-ala-abang-abang

Tahu Bulat ini (berdasarkan website cookpad.com) cara bikinnya dihancurin, diambil ampasnya lalu dicampur dengan kuning telur dan kaldu bubuk. Nah, Tahu bulat ini kan dalemnya kopong tuh.. gmn caranya bikin dia kopong y? Ternyata ada penambahan baking powdernya cuy.. Tahukan baking powder? yang biasa buat ngembangin roti dan cake.

Baking powder ini mengandung yang namanya Natrium bikarbonat serta asam kering. Dimana ketika kondisi adonannya basah, keduanya akan mengurai dan bereaksi menghasilkan gas Karbondioksida. Gas Karbondioksida akan mengisi ruang dalam adonan sehingga mengembang. Kondisi mengembang ini yang bikin tahunya kopong hehe … Ilmiah banget yaa #pussiing

Selain produknya yg unik, cara jualnya juga unik guys.. pakai pick up keliling. Cara jual menggunakan pick up ini mirip cara jual makanan di luar negeri yang pakai mobil van keliling (Lebih suka disebut dengan: Food Truck).

Kalau di luar negeri gini:

foodtruck2

Kalau di Indonesia gini:

https://kuatabuasmuni.files.wordpress.com/2013/02/pnjual-tahu.jpg
https://kuatabuasmuni.files.wordpress.com/2013/02/pnjual-tahu.jpg

Udah pakai pick up keliling.. penjualnya juga punya jargon buat menarik pembelii.. jargonnya simpel tapi lucu.. cara ngomong penjualnya juga khas banget sehingga mengundang tawa pembeli.

Bunyi Jargonnya gini nih sob:
“Tahuuu … Tahuuu… Bulaat… digoreng dadakan .. lima ratusan…. haaanggeeett.

Hehe… Kalau sekolah di bogor tepatnya sekitaran IPB dramaga cariin tuh penjualnya.

Seblak …


Apakah Seblak itu???

Akibat keseringan nonton “Ini Talkshow” di NET. Setibanya di Bogor, sy langsung kepengen cari makanan yg namanya “SEBLAK”. Seenak apa sih makanan ini sampai dibikinan lawakan lagu.

Here we come … This is it…..

Seblak-bandung

Setelah sy cobain…. dg harga 8000 rupiah bagi dua ma temen . Rasanya….. enakkk (y) .
Seblak ini agak unik. Bayangin aja….. kerupuk mentah dicemplungin ke kuah…… Ya udah pasti ayem . Tapi di  sini enaknya, rasanya bukan ayem tapi jadi “kenyil-kenyil” bahasa apa itu .

Kuahnya broo….. ada rasa gurih, sedikit pedas dan angeeett. Rasa gurihnya bro berasal dari bawang putih, bawang merah dan garam. Pedesnya broo… Cabe – cabe an broo….eh bukan cabe rawit maksudnya. Rasa angetnya… setelah browsing-browsing ternyata dari kencur bro… Gak nyangka kan kerupuk diayemin jadi seenak ini…. hahaha

Yo wis bro... Kalau ke Bogor dan daerah sunda lainnya jangan lupa cobain makanan ini..

Eh, iya ampe lupa… selain kerupuk ayem, isian lainnya ada telur orak arik, dan makaroninya ..

Sumber Vitamin C Bukan Jeruk Tapi Ketela Pohon


untitled2Bagi rekan-rekan yang suka mengkonsumsi vitamin C dalam bentuk siap saji (tablet, kapsul dsb). Tahukah kalian sumber vitamin C yang dipakai dalam kaplet tersebut?? Mungkin banyak dari kita yang mengira bahwa sumber vitamin C nya berasal dari jeruk. Tetapi tahukah kalian bahwa sebenarnya sumber vitamin C yang digunakan berasal dari ketela pohon.

Loh kok bisa??

Secara alami, kita tidak akan menemukan vitamin C dalam ketela pohon. Tetapi melalui serangkaian pengolahan, komponen pati dalam umbi ketela bisa diolah menjadi vitamin C. Pati yang terdiri dari struktur glukosa yang panjang bisa dikonversi menjadi sorbitol. Sorbitol sendiri merupaka bahan baku sintesis vitamin C yang terdiri dari gugus glukosa yang telah diubah gugus aldehidnya menjadi alcohol. (gambar struktur sorbitol). Pengubahan struktur ini bisa dilakukan dengan cara Hidrogenasi Katalitik. Yaitu proses mereaksikan gugus gula dengan hydrogen bertekanan tinggi. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut:

Reaksi Pembentukan Sorbitol

Proses ini melibatkan tiga tahap yaitu: Pencampuran Bahan Baku, Reaksi Hidrogenasi, dan Pemurnian dan Pemekatan. Pencampuran dilakukan dengan mengalirkan sirup glukosa dan hydrogen bertekanan melalui Plate Heat Exchanger bersuhu 100 0C. Campuran ini diharapkan memiliki suhu yang sama (100 C) sebelum masuk ke reaktor hidrogenasi. Di dalam reactor hidrogenasi terjadi proses hidrogenasi katilitik dengan katalis Raney Nickel untuk mempercepat reaksi. Dari sini sudah diperoleh sorbitol namun masih terdapat zat-zat air, maltose,dekstrin dan sisa hydrogen. Untuk itu, perlu dilakukan pemurnian dan pemekatan. Pemurnian dilakukan dengan Separator Flush Drum. Setelah dipisahkan, sorbitol murni dipekatkan untuk mengurangi kandungan airnya dengan evaporator.

Sorbitol ini selanjutnya mengalami proses sintesa untuk menjadi vitamin C. Sintesa ini dilakukan untuk merubah sorbitol menjadi Asam 2-Ketoglukonat kemudian diubah menjadi bentuk garam natrium dan diperlakukan asam untuk membentuk Asam L-Askorbat (vitamin C). Proses sintesa Asam 2-Ketoglukonat membutuhkan sentuhan bioteknologi. Yaitu dengan memanfaatkan bakteri sebagai konverternya. Beberapa bakteri seperti Acetobacter, Erwinia, dan Gluconobacter dapat mensintesis Asam 2-Ketoglukonat. Kemampuan konversi bakteri-bakteri tersebut terjadi akibat adanya enzim reduktase 2,5 DKG.

Sudjadi, 2008
Sudjadi, 2008

Asam L-Askorbat (vitamin C) dari hasil sintesis ini sifatnya tidak berbahaya. Proses sintesis ini dipilih karena prosesnya menjadi lebih murah dan sederhana.

Pustaka:

– Sudjadi. 2008. Bioteknologi Kesehatan. Kanisius

– Anonim. 2010. Pembuatan Sorbitol. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/21264

STRATEGI PENGEMBANGAN ASET TEKNOLOGI DALAM UPAYA MEWASPADAI KRISIS PANGAN


Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kutipan kalimat diatas merupakan bunyi pasal 33 ayat 3dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Betapa, para pendiri bangsa telah menitikberatkan penguasaan sumber kekayaan alam hanya untuk kemakmuran rakyat. Namun, kebanyakan pemimpin bangsa zaman sekarang seperti lupa dengan bunyi pasal ini. Kekayaan alam sumber pangan misalnya, lebih banyak yang tidak termanfaatkan secara maksimal. Negara lebih memilih impor dengan alasan harga yang lebih murah dan kualitas baik.

Mengapa itu bisa terjadi??

Karena bangsa ini tidak melek ilmu pengetahuan dan teknologi. Pabrik milik BUMN saja, kebanyakan mesin pengolahannya adalah peninggalan zaman Belanda. Bagaimana bisa menghasilkan kualitas yang bersaing?? Petani, ketika musim giling tiba, kebanyakan tebu mereka mengalami kehilangan pasca panen. Mereka tidak mengerti mengapa terjadi kehilangan. Namun bagi mereka yang menguasai ilmunya tentu memahami bahwa selama truk tebu menunggu giliran masuk pabrik, terjadi inversi gula pada tebu. Hal semacam inilah yang bisa dijadikan bahan pelajaran bahwa penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menjadi kebutuhan primer bangsa ini.

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan aset. Aset yang akan membawa kita untuk siap menghadapi krisis pangan. Karena dia adalah “aset”. Dia adalah barang berharga yang secara sadar harus dimiliki oleh suatu bangsa. Apabila suatu bangsa tidak memiliki aset ini, maka sumber pangannya akan dengan mudah dikuasai oleh bangsa lain. Dan jika suatu bangsa tidak sadar telah memiliki aset ini, maka sumber pangan hanya akan dikuasai oleh kalangan tertentu saja sehingga menyebabkan ketimpangan dalam pemerataan sumber daya pangan.

Pengembangan aset merupakan salah satu cara untuk meningkatkan investasi. Seperti halnya properti, jika bangunannya dimegahkan, diperluas maka nilai jualnya pun akan tinggi. Begitu pula dengan iptek, jika asetnya dikembangkan maka akan meningkatkan keuntungan bagi bangsa ini.

Pengembangan aset ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu pengembangan secara horizontal maupun vertikal. Horizontal memiliki makna pengembangan iptek bisa dikuasai oleh sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia. Sedangkan pengembangan secara vertikal mengandung maksud bahwa riset mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi harus terus ditingkatkan.

Sistem distribusi ilmu merupakan salah satu cara yang dapat diterapkan unuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara horizontal. Sistem distribusi ini melibatkan setidaknya 4 pihak: 1. Pemerintah; 2. Ilmuwan/dosen; 3. Petani; 4. Orang awam.
1.Pemerintah
Sebagai pucuk teratas dari suatu negeri maka pemerintah harus siap menjamin terlaksananya sistem dengan baik. Tanpa ada campur tangan orang-orang yang korup, karena jika itu terjadi maka sistem ini tidak akan berjalan. Untuk menjalankan sistem ini dibutuhkan satu komitmen yang utuh dari keempat pihak.
2.Ilmuwan/dosen
Ilmuwan/dosen memiliki dua peran. Peran pertama yaitu menemukan teknologi tepat guna yang sederhana namun memberikan hasil baik serta mudah dipelajari oleh petani. Hal ini mutlak diperlukan mengingat rata-rata petani kita tidak berpendidikan tinggi. Peran kedua yaitu sebagai mediator/ penyampai pesan ilmu kepada para petani. Peran ini menurut saya sulit diwakilkan karena yang meneliti tentu lebih paham dibandingkan harus orang lain yang menyampaikan. Hal terpenting dari sebuah penyampaian ialah kontinuitas. Penyampaian yang kontinyu akan membuat petanit segera familiar dengan teknologi baru tersebut.
3.Petani
Agar produksi hasil pertanian makin meningkat maka perlu sentuhan teknologi. Saat ini, kita lemah dalam hal pasca panen. Dimana penanganan pasca panen di negeri ini masih tergolong buruk. Begitu pula dengan penyimpanannya, banyak produk yang mudah rusak selama penyimpanan akibat tidak adanya fasilitas storage yang memadai. Pengolahan menjadi produk pun demikian. Kita ambil contoh porang misalnya, bahan yang berpotensi sebagai hidrokoloid ini kebanyakan hanya diolah sampai bentuk chips lalu diekspor ke negara lain. Seandainya, negara ini bisa memproses hingga menjadi tepung hidrokoloid tentu nilai tambahnya akan menjadi lebih besar. Oleh karena itu petani wajib menerima ilmu mengenai pasca panen, penyimpanan dan pengolahan agar produk dari para petani berkualitas.
4.Orang awam
Untuk menekan krisis di negeri kita, maka rakyat sudah sepatutnya tidak hanya menuntut pemerintah tetapi juga ikut berkontribusi meminimalisir krisis pangan. Salah satu cara yang bisa ditempuh ialah dengan mengatur pola konsumsi makan. Pola konsumsi kita yang cenderung ke arah karbohidrat terutama nasi sebagai “primadonanya” telah membuat negara ini ketergantungan terhadap beras. Padahal masih banyak sumber karbohidrat yang lain. Untuk itu masyarakat awam perlu paham bahwa kita bisa mengonsumsi sumber karbohidrat selain beras.

Riset tentang pangan di Indonesia memang telah berkembang pesat. Namun, dari banyak riset tersebut hanya sedikit yang mampu berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pangan di negeri ini. Ketidakmampuan masyarakat awam untuk mengadaptasi teknologi mungkin menjadi kendalanya. Peneliti yang baik tentunya juga memikirkan bagaimana penemuannya dapat digunakan dengan mudah oleh penggunanya. Seperti lampu yang ditemukan oleh Thomas Alva Edison dapat digunakan secara praktis. Jadi, penemuan teknologi di bidang pangan hendaknya mempertimbangkan aspek ketersediaan bahan, kemudahan memperoleh, dan teknologi yang tepat guna.

Seperti kata nabi Yusuf as dalam Al-Qur’an surat Yusuf:47, Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Dari petikan ayat tersebut, maka tersirat bahwa penguasaan teknologi sebagai salah satu cara untuk bercocok tanam secara sungguh-sungguh (bertanan tujuh tahun lamanya) menjadi petunjuk dari Allah SWT kepada kita agar terhindar dari krisis pangan.