MSI Bagian Ke 3


Sakit Gigi

Saat berada di Luar Negeri, hal yang paling tidak mengenakkan ialah sakit. Ketika tinggal selama enam bulan di Warsawa, saya mengalami sakit gigi yang cukup menyiksa. Awal ceritanya bermula saat perjalanan pulang dari prague menuju warsawa, ketika itu gigi ini sungguh tak tertahankan sakitnya, kampretnya, obat sakit gigi tidak saya bawa.

Iseng-iseng google saya buka, baca baca, katanya obat flu bisa jadi pereda. Satu-satunya obat flu yang saya bawa ialah “Neozep Forte”. Setelah minum itu, saya langsung merasa ngantuk dan gak terasa sakit lagi (ya iyalah kan tiduurr -___-).

Sakit gigi ini semakin menjadi jadi ketika memasuki bulan puasa, rahang bengkak mulut tak bisa mangap. Makan apapun jadi sulit, untung perut tidak melilit, yang bisa kulakukan saat itu ialah minum susu dan makan roti sedikit.

Karena sudah tak tahan, akhirnya saya pergi ke dokter sendirian. Disana saya ceritakan semua keluhan. Dokter tidak bisa memutuskan, jadi saya dibuatkan rujukan. Pergilah saya ke klinik gigi yang lokasinya agak jauhan. Cerita disana, ternyata sakit itu berasal dari gigi bungsu yang posisi tumbuhnya tidak diinginkan. “Cabut gigi segera”, dokter menyarankan.

Gimana mau cabut gigi dok.. mangap aja susah.. Akhirnya dokter memberikan obat, supaya bengkaknya segera sembuh. Setelah sembuh bengkaknya dan hilang sakitnya, saya malah gak berani cabut gigi.. Kepikiran kendala bahasa.. saya gak bisa bahasa polandia.. salah salah gigi bisa ilang semua hehe…

Tesis Oh Tesis

Setelah pulang ke Indonesia, saya langsung disibukkan dengan tesis. Serasa kembali ke dunia nyata, mulai masuk laboratorium dan berkutat dengan jurnal jurnal. Tesis di IPB tahapannya lumayan banyak dan harus telaten ngurus segala sesuatunya sendiri.

Tahap pertama dimulai dengan menentukan dosen pembimbing, setiap mahasiswa akan dibimbing minimal oleh dua dosen. Dosen pertama sebagai Ketua komisi pembimbing serta dosen kedua dan seterusnya sebagai anggota, Pemilihan dosen pembimbing pertama sudah dilakukan pada tahun pertama perkuliahan. Mahasiswa memilh 2 nama sebagai calon ketua komisi pembimbing, apabila kuota dosen di nama pilihan pertama sudah penuh maka akan dilimpahkan ke nama pilihan kedua. Setiap mahasiswa akan diberi kertas berisikan nama calon dosen pembimbing dan topik-topik apa saja yang menjadi bidang keahliannya.

Di Tahap kedua, kita akan bertemu dengan ketua komisi pembimbing dan berdiskusi mengenai topik apa yang akan diteliti. Apabila topik sudah bisa ditentukan maka akan berlanjut ke penyusunan draft proposal dan pemilihan anggota komisi pembimbing.

Tahap ketiga ialah sidang komisi 1. Setelah draft proposal siap, maka dilakukan sidang komisi yang bertujuan untuk menguji apakah proposal sudah bisa diajukan ke kolokium (seminar proposal)i atau masih perlu beberapa perbaikan. Di tahap ini kita akan mendapat banyak sekali masukan dari dosen pembimbing. Sidang komisi dilakukan secara tertutup dengan dosen pembimbing kita.

Tahap keempat ialah kolokium (seminar proposal). Kolokium berformat sidang terbuka, yang dihadiri oleh dosen pembimbing (tanpa harus semua hadir), rekan-rekan mahasiswa, dan seorang moderator. Kolokium biasanya berlangsung kurang lebih satu jam dengan format pemrasaran memaparkan presentasi kemudian dilakukan tanya jawab dan ditutup dengan komentar dan saran dari dosen pembimbing. TIPS : pelajari karakter moderator dan bidang risetnya. Apabila bidang risetnya sesuai dengan penelitian anda, maka pertanyaan dari moderator akan jauh lebih dalam ketimbang yang tidak sesuai dengan penelitian anda. FYI saya menyelesaikan tahap 2 hingga tahap 4 dalam satu semester .. hmm.. seharusnya bisa lebih cepat kalau anda lebih rajin hehehe.

Tahap kelima ialah ngelabbbbb …. karena bidang ilmu saya mengharuskan untuk berkutat di laboratorium. Tahap ini sangat krusial.. dan bisa dibilang bergantung pada diri kita sendiri dan juga nasib hehehe. Jadi sangat disarankan anda untuk tidak malas2an saat berada di tahap ini serta ngencengin ibadah dan doa agar punya nasib yang baik hehehe. Tahap kelima ini saya kerjakan sepulang dari Polandia. Awalnya, saya berniat ngelab hanya di laboratorium milik kampus IPB, tapi ternyata kau tak berubah ada apa denganmu  hidup tak semudah itu ferguso. Saya kena semprot dosen penanggungjawab laboratorium karena menggunakan autoklaf untuk produk makanan, padahal autoklaf itu peruntukannya untuk sampel mikrobiologi. Semprotan itu saya terima, karena saya salah dan saya bersyukur karena hampir saja saya melukai diri sendiri karena saya suka nyemilin sampel saya diam-diam.. Bisa-bisa saya bisa kena typus atau sakit yang lebih parah karena sampelnya terkontaminasi mikroba. Mencari-cari laboratorium yang ada autoklaf khusus pangan ternyata tidak mudah. Alhamdulillah saya punya teman yang bekerja di LAPTIAB-BPPT serpong, disana ada autoklaf yang khusus dipakai untuk sampel  makanan.. baru dibeli lagi.. Jadilah saya ngelab disana selama kurang lebih hampir setahunan hehehe..

Tahap keenam ialah menyusun draft makalah seminar. Tahap ini bisa dicicil selama ngelab, karena untuk seminar tidak membutuhkan semua data hingga selesai penelitian. Kita bisa memaparkan sebagian data hasil penelitian kita dalam makalah seminar.

Tahap ketujuh ialah seminar hasil. Seminar dilakukan secara terbuka dengan dihadiri oleh dosen pembimbing (bisa salah satu saja), rekan-rekan mahasiswa dan seorang moderator. Untuk daftar seminar ini syaratnya ialah makalah seminar anda harus sudah di ACC oleh ketua komisi pembimbing. Bagi mahasiswa Ilmu Pangan syaratnya ditambah, yaitu harus sudah men-submit manuskrip artikel ilmiah ke jurnal. Seminar hasil dilakukan kurang lebih satu jam dengan format yang kurang lebih mirip seperti kolokium namun dengan audiens yang biasanya lebih luas dan dari bermacam-macam program studi yang ada di IPB.

Tahap kedelapan ialah menyusun draft artikel ilmiah (manuskrip publikasi). Publikasi bisa dilakukan pada jurnal nasional maupun internasional. Status publikasi saat kita sebelum ujian tesis akan menentukan grade atau nilai yang kita peroleh di transkrip. Usahakan untuk publikasi minimal di jurnal terakreditasi DIKTI dengan status telah lolos penelaahan editor agar mendapatkan nilai A. Publikasi ilmiah memiliki angka kredit sebesar 2 SKS di dalam transkrip.

Tahap kesembilan yaitu menyusun draft tesis. Draft tesis yang dibuat harus mengacu pada format penulisan IPB. Format ini dapat ditemukan pada buku panduan penulisan tesis. Semakin sesuai dengan format maka akan semakin memudahkan saat revisi nanti.

Tahap kesepuluh ialah sidang komisi 2. Sebenarnya, sidang komisi bisa lebih dari dua kali. Namun, kalau udah cukup dua yaa ngapain banyak banyak ya.. hehe..  Fungsi dari sidang komisi ini ialah menguji terlebih dahulu tulisan dalam draft tesis kita. Semakin banyak masukan disini akan semakin baik untuk menghadapi ujian sidang tesis. Sidang komisi 2 bisa dilakukan sebelum seminar hasil maupun sebelum ujian sidang. Saya dulu melakukan sidang komisi 2 sebelum seminar hasil, sehingga setelah seminar hasil saya tinggal menyelesaikan data untuk sebagian pembahasan dan persiapan menuju ujian sidang.

Tahap kesebelas adalah tahap yang paling dinanti-nanti yaitu…. ujian sidang tesis. Sebelum ujian, kita perlu mendiskusikan dengan dosen pembimbing, siapa yang akan menjadi dosen penguji kita. Saat menjelang ujian, persiapkan fisik dan mental yang prima. Belajar secukupnya saja (karena pertanyaannya akan out of the box dan lebih menguji ke mental kita menghadapi tekanan hehehe). Buatlah slide presentasi yang jelas sehingga bisa dibaca dengan baik. Saat ujian sidang, dosen yang hadir ialah semua dosen pembimbing, 1 orang dosen penguji, dan perwakilan program studi sebagai moderator. Pengumuman kelulusan sidang dan nilainya dilakukan langsung seusai sidang.

Tahap keduabelas ialah revisi draft tesis. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dosen pembimbing, dosen penguji dan moderator. Draft revisi yang sudah disetujui oleh dosen pembimbing masih belum boleh dijilid terlebih dahulu. Draft revisi harus melalui cek format. Cek format dilakukan di bagian administrasi sekretariat pascasarjana. Pengecekan dilakukan sangat teliti hingga meminimalkan kesalahan format pada draft kita. Setelah bolak-balik pengecekan format dan dinyatakan fix.. kita bisa menjilid tesis kita.

Tahap ketigabelas adalah Mengurus penerbitan SKL, Ijazah, dan Transkrip Nilai. SKL atau Surat Keterangan Lulus bisa kita urus setelah menyelesaikan semua tanggungan diatas. Termasuk menyetorkan Tesis kita yang sudah dijilid ke perpustakaan pusat, perpustakaan fakultas, sekretariat program studi, dan dosen pembimbing. Ijazah dan Transkrip akan diserahkan setelah wisuda, tetapi saya dulu bisa mengajukan permohonan percepatan karena akan digunakan untuk mendaftar CPNS (Meskipun akhirnya gak lolos SKD hahahaha)

Tahap keempatbelas ialah Wisuda… Akhirnya kita bisa bernafas lega… menyelesaikan studi dan mendapat gelar baru… Selamatttt….